CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »
Tampilkan postingan dengan label healing words. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label healing words. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 27, 2008

DOA - Martin Luther King, Jr

Doa berawal dari hati yang gelisah,
Dengarkanlah gejolaknya

Doa adalah suatu kerinduan terhadap rumah kita yang sebenarnya.
Ikutilah bimbingannya

Doa itu seperti kebun.
Peliharalah maka doa akan berbuah

Doa bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Lakukanlah sesuai dengan cara Anda

Berdoalah selalu, tapi jadwalkan juga waktu khusus.
Roh, seperti halnya badan, membutuhkan latihan-latihan teratur

Buatlah doa Anda pendek.
Cinta membutuhkan sedikit kata-kata

Berdoalah di mana saja Anda berada.
Tuhan ada di mana-mana

Jika Anda menginginkan sesuatu, bertanyalah pada diri Anda sendiri,
"Apakah saya menginginkan hal yang dikehendaki Tuhan?"
Tuhan menghendaki kebaikan sejati Anda

Bila doa Anda menjadi kering dan rutin, teruskan saja.
Tanah yang kering kerontang menyambut datangnya hujan

Bawalah kemarahan Anda dalam doa.
Logam yang panas bisa dibentuk

Bila Anda berdosa dan terus menerus jatuh, berdoalah.
Tuhan tetap mencintai Anda

Berdoalah bila Anda cemas.
Doa membuat segala sesuatu bisa dipikirkan dan dipertimbangkan secara
sehat

Bila karena sesuatu hal Anda tidak bisa berdoa, bersantailah.
Keinginan untuk berdoa itu sudah merupakan doa

Bila doa mengajak Anda untuk mengambil resiko, beranilah.
Tuhan akan mendukung Anda

Bila Anda merasa sedih atau menyesal, menangislah.
Airmata adalah doa dari hati

Jika Anda tidak menyukai seseorang, berdoalah untuknya.
Doa mengungkapkan Tuhan yang tersembunyi

Bila Anda menerima kabar buruk, tegarlah.
Doa memberi cahaya

Bila penyakit, usia, kepedihan, atau kecemasan merusak konsentrasi
Anda,bersantailah.
Tuhan adalah seorang sahabat yang penuh pengertian

Jika doa membuat Anda jadi pasif dan acuh tak acuh, itu bukanlah doa.
Doa sejati akan membuahkan kepedulian dan pelayanan

Gunakanlah saat-saat tenang untuk berdoa.
Ketenangan menarik Anda kepada Sang Maha Besar

Gunakanlah saat-saat ribut untuk berdoa.
Kegaduhan adalah hiruk-pikuk ciptaan yang mencari Tuhan

Berdoalah bila Anda merasa kesepian.
Doa membuat Anda ditemani oleh para malaikat

Bila hidup ini terasa kejam dan tak adil, berdoalah terus.
Tuhan adalah karnanya, bukan penyebabnya

Bila hati Anda penuh dengan rasa syukur, biarkanlah demikian.
Roh Allah sedang berdoa di dalam diri Anda

Bila Anda terpesona di hadapan misteri, biarkanlah demikian.
Roh Allah sedang berdoa di dalam diri Anda

Cakuplah seluruh dunia dalam doa Anda.
Perdamaian tergantung padanya

Berdoalah dalam tidurmu.
Tidur adalah doa dari manusia yang merasa aman dari cinta Tuhan

Berdoa adalah bernafas.
Lakukanlah dalam-dalam dan Anda akan dipenuhi dengan kehidupan

Bila Anda mulai merasa maju dalam kehidupan doa, pikirkan sekali lagi.
Kehidupan Tuhan itu lebih dalam daripada perasaan dan pengalaman Anda

Jumat, November 21, 2008

I AM THANKFUL (dapet dari Internet)

FOR THE WIFE WHO SAYS IT'S HOT DOGS TONIGHT,BECAUSE SHE IS HOME WITH ME,AND NOT OUT WITH SOMEONE ELSE.
FOR THE HUSBAND WHO IS ON THE SOFA BEING A COUCH POTATO,BECAUSE HE IS HOME WITH ME AND NOT OUT AT THE BARS.
FOR THE TEENAGER WHO IS COMPLAINING ABOUT DOING DISHES BECAUSE IT MEANS SHE IS AT HOME,NOT ON THE STREETS.
FOR THE TAXES I PAY BECAUSE IT MEANSI AM EMPLOYED.
FOR THE MESS TO CLEAN AFTER A PARTY BECAUSE IT MEANS I HAVE BEEN SURROUNDED BY FRIENDS.
FOR THE CLOTHES THAT FIT A LITTLE TOO SNUG BECAUSE IT MEANSI HAVE ENOUGH TO EAT.
FOR MY SHADOW THAT WATCHES ME WORK BECAUSE IT MEANS I AM OUT IN THE SUNSHINE
FOR A LAWN THAT NEEDS MOWING,WINDOWS THAT NEED CLEANING,AND GUTTERS THAT NEED FIXING BECAUSE IT MEANS I HAVE A HOME.
FOR ALL THE COMPLAINING I HEAR ABOUT THE GOVERNMENT BECAUSE IT MEANS WE HAVE FREEDOM OF SPEECH..
FOR THE PARKING SPOT I FIND AT THE FAR END OF THE PARKING LOT BECAUSE IT MEANS I AM CAPABLE OF WALKING AND I HAVE BEEN BLESSED WITH TRANSPORTATION.

FOR MY HUGE HEATING BILL BECAUSE IT MEANS I AM WARM.
FOR THE LADY BEHIND ME IN CHURCH WHO SINGS OFF KEY BECAUSE IT MEANS I CAN HEAR.
FOR THE PILE OF LAUNDRY AND IRONING BECAUSE IT MEANSI HAVE CLOTHES TO WEAR.
FOR WEARINESS AND ACHING MUSCLESAT THE END OF THE DAY BECAUSE IT MEANS I HAVE BEENCAPABLE OF WORKING HARD.
FOR THE ALARM THAT GOES OFF IN THE EARLY MORNING HOURS BECAUSE IT MEANS I AM ALIVE.
AND FINALLY, FOR TOO MUCH E-MAIL
BECAUSE IT MEANS I HAVEFRIENDS WHO ARE THINKING OF ME

PERKATAAN IBU TERESA (dapet dari internet)

Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum menemui
kematiannya :

"Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia
sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya
tertutup,yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam
ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat - kemiskinan
spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi."Mereka yang
miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah. Pada suatu petang
kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan. Dan salah
satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk. Saya
memberitahu para suster : "Kalian merawat yang tiga; saya akan
merawat orang itu yang kelihatan paling buruk."

Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan,
dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang
tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata : " Terima
kasih " - lalu ia meninggal.

Saya tidak bisa tidak harus memeriksa hati nurani saya sendiri. Dan
saya bertanya : " Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi
dia ?" dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha
mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri. Mungkin saya
berkata : " Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya
kesakitan, atau lainnya". Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak ia
memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia mati dengan
senyum di wajahnya.

Lalu ada seorang laki -laki yang kami pungut dari selokan, sebagian
badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah
perawatan ia hanya berkata : "Saya telah hidup seperti hewan di
jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan
dipedulikan."Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari
tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah : " Ibu, saya akan
pulang kepada Tuhan" - lalu ia mati.

Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak
mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang
lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang
kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.

1. Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
2. Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
3. Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
4. Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
5. Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
6. Hidup adalah pertandingan, jalani itu.
7. Hdup adalah mahal, jaga itu.
8. Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
9. Hidup adalah kasih, nikmati itu.
10. Hidup adalah janji, genapi itu.
11. Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
12. Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
13. Hidup adalah perjuangan, terima itu.
14. Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
15. Hidup adalah petualangan, lewati itu.
16. Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
17. Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.
18. Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

TUHAN MEMBERKATI SEMUANYA..

Hadiah Natal Terindah (dapet dari internet)

Nasib Egar tidak sebaik hatinya. Dengan pendidikannya yg rendah, pria berumur sekitar 30 tahun itu hanya seorang pekerja bangunan yg miskin. Dan bagi seseorang yg hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari, natal tidak banyak berbeda dengan hari2 lainnya, karenanya apa yg terjadi pada suatu malam natal itu tidak banyak yg diingatnya. Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yg berlimpah. Tapi di kantong Egar hanya terdapat $10, jumlah yg pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis ke Baldwin, dimana dia mungkin mendapatkan pekerjaan untuk ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.
Maka menjelang malam, ketika lonceng & lagu2 natal terdengar dimana2, dan senyum dan salam natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yg akan membawanya ke Baldwin. Salju turun deras. Suhu jatuh pada tingkat yg menyakitkan dan perut Egar mulai berbunyi karena lapar. Ia melihat jam di stasiun, dan memutuskan untuk membeli hamburger dan kentang goreng ukuran ekstra, karena ia butuh banyak energi untuk memindahkan salju sepanjang malam nanti. 'Lagipula,' pikirnya, 'sekarang adalah malam natal, setiap orang, bahkan orang seperti saya sekalipun, harus makan sedikit lebih special dari biasanya.'
Di tengah jalan ia melewati sebuah bangunan raksasa, dimana sebuah pesta mewah sedang berlangsung. Ia mengintip ke dalam jendela. Ternyata itu adalah pesta kanak2. Ratusan murid taman kanak2 dengan baju berwarna-warni bermain-main dengan begitu riang. Orangtua mereka saling mengobrol satu sama lain, tertawa keras dan saling olok. Sebuah pohon terang raksasa terletak di tengah2 ruangan, kerlap-kerlip lampunya memancar keluar jendela dan mencapai puluhan mobil2 mewah di pekarangan. Di bawah pohon terang terletak ratusan hadiah2 natal dalam bungkus berwarna-warni. Di atas beberapa meja raksasa tersusun puluhan piring2 yg berisi bermacam-macam makanan dan minuman, menyebabkan perut Egar berbunyi semakin keras. Dan ia mendengar bunyi perut kosong di sebelahnya. Ia menoleh, dan melihat seorang gadis kecil, berjaket tipis, dan melihat ke dalam ruangan dengan penuh perhatian. Umurnya sekitar 10 tahun. Ia tampak kotor & tangannya gemetar. 'Minta ampun nona kecil,' Egar bertanya dengan pandangan tidak percaya,' udara begitu dingin. Dimana orangtuamu?' Gadis itu tidak bicara apa2. Ia hanya melirik Egar sesaat, kemudian memperhatikan kembali anak2 kecil di dalam ruangan, yang kini bertepuk tangan dengan riuh karena Sinterklas masuk kedalam ruangan. 'Sayang kau tidak bisa didalam sana' Egar menarik napas. Ia merasa begitu kasihan pada gadis itu.
Keduanya kembali memperhatikan pesta dengan diam2. Sinterklas sekarang membagi-bagikan hadiah pada anak2, dan mereka meloncat kesana-sini, memamerkan hadiah2 kepada orangtua mereka yg terus tertawa. Mata gadis itu bersinar. Jelas ia membayangkan memegang salah satu hadiah itu, dan imajinasi itu cukup menimbulkan secercah sinar dimatanya. Pada saat yg bersamaan Egar bisa mendengar bunyi perutnya lagi. Egar tidak bisa lagi menahan hatinya. Ia memegang tangan gadis itu & berkata
'Mari, akan saya belikan sebuah hadiah untukmu.' 'Sungguh ?' gadis itu bertanya dengan nada tidak percaya. 'Ya. Tapi kita akan mengisi perut dulu.' Ia membawa gadis itu diatas bahunya dan berjalan ke sebuah depot kecil. Tanpa berpikir tentang tiket bisnya ia membeli 2 buah roti sandwich, 2 bungkus kentang goreng dan 2 gelas susu coklat. Sambil makan ia mencari tahu tentang gadis itu. Namanya Ellis dan ia baru kembali dari sebuah toko minuman dimana ibunya bekerja paruh waktu sebagai kasir. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah anak yatim St. Carolus, sebuah sekolah kecil yg dibiayai pemerintah untuk anak2 miskin. Ibunya baru memberinya sepotong roti tawar untuk makan malamnya. Egar menyuruh gadis itu untuk menyimpan rotinya untuk besok.
Sementara mereka bercakap2, Egar terus berpikir tentang hadiah apa yg bisa didapatnya untuk Ellis. Ia kini hanya punya sekitar $5 dikantongnya. Ia mengenal sopir bis, dan ia yakin sopir itu akan setuju bila ia membayar bisnya kali berikutnya. Tapi tidak banyak toko2 yg buka disaat ini, dan yg bukapun umumnya menaikkan harga2 mereka. Ia amat ragu2 apakah ia bisa membeli sesuatu seharga $5. Apapun yg terjadi, katanya pada dirinya sendiri, saya akan memberi gadis ini hadiah, walaupun itu kalung saya sendiri.
Kalung yg melingkari lehernya adalah milik terakhirnya yg paling berharga. Kalung itu adalah 24 karat murni, sepanjang kurang lebih 30 cm, seharga ratusan dollar. Ibunya memberinya kalung itu beberapa saat sebelum kematiannya. Mereka mengunjungi beberapa toko tapi tak satupun yg punya sesuatu seharga $5. Tepat ketika mereka mulai putus asa, mereka melihat sebuah toko kecil yg agak gelap di ujung jalan, dengan tanda 'BUKA' di atas pintu. Bergegas mereka masuk ke dalam. Pemilik toko tersenyum melihat kedatangan mereka, dan dengan ramah mempersilakan mereka melihat2, tanpa peduli akan baju2 mereka yg lusuh. Mereka mulai melihat barang2 di balik kaca & mencari2 sesuatu yg mereka sendiri belum tahu. Mata Ellis bersinar melihat deretan boneka beruang, deretan kotak pensil, dan semua barang2 kecil yg tidak pernah dimilikinya. Dan di rak paling ujung, hampir tertutup oleh buku cerita, mereka melihat seuntai kalung. Kening Egar berkerut. Apakah itu kebetulan, atau natal selalu menghadirkan keajaiban, kalung bersinar itu tampak begitu persis sama dengan kalung Egar. Dengan suara takut2 Egar meminta melihat kalung itu. Pemilik toko, seorang pria tua dengan cahaya terang dimatanya dan jenggot yg lebih memutih,mengeluarkan kalung itu dengan tersenyum. Tangan Egar gemetar ketika ia melepaskan kalungnya sendiri untuk dibandingkan pada kalung itu.
'Yesus Kristus,' Egar mengguman,'begitu sama dan serupa.' Kedua kalung itu sama panjangnya, sama mode rantainya, dan sama bentuk salib yg tertera diatas bandulnya. Bahkan beratnyapun hampir sama. Hanya kalung kedua itu jelas kalung imitasi. Dibalik bandulnya tercetak: 'Imitasi : Tembaga'. 'Samakah mereka?' Ellis bertanya dengan nada kekanak2an. Baginya kalung itu begitu indah sehingga ia tidak berani menyentuhnya. Sesungguhnya itu akan menjadi hadiah natal yg paling sempurna, kalau saja......kalau saja....... "Berapa harganya, Pak ?" tanya Egar dengan suara serak karena lidahnya kering. "Sepuluh dollar." kata pemilik toko. Hilang sudah harapan mereka. Perlahan ia mengembalikan kalung itu. Pemilik toko melihat kedua orang itu berganti2, dan ia melihat Ellis yg tidak pernah melepaskan matanya dari kalung itu. Senyumnya timbul, dan ia bertanya lembut "Berapa yg anda punya, Pak ?" Egar menggelengkan kepalanya "Bahkan tidak sampai $5." Senyum pemilik toko semakin mengembang "Kalung itu milik kalian dengan harga $4." Baik Egar maupun Ellis memandang orang tua itu dengan pandangan tidak percaya. "Bukankah sekarang hari Natal ?" Orang tua itu tersenyum lagi, "Bahkan bila kalian berkenan, saya bisa mencetak pesan apapun dibalik bandul itu. Banyak pembeli saya yg ingin begitu. Tentu saja untuk kalian juga gratis." "Benar2 semangat natal." Pikir Egar dalam hati. Selama 5 menit orang tua itu mencetak pesan berikut dibalik bandul : "Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas"
Ketika semuanya beres, Egar merasa bahwa ia memegang hadiah natal yg paling sempurna seumur hidupnya. Dengan tersenyum Egar menyerahkan $4 pada orang tua itu dan mengalungkan kalung itu keleher Ellis. Ellis hampir menangis karena bahagia. "Terima kasih. Tuhan memberkati anda, Pak. Selamat Natal." kata Egar kepada orang tua itu. "Selamat natal teman2ku." Jawab pemilik toko, senantiasa tersenyum.
Mereka berdua keluar dari toko dengan bahagia. Salju turun lebih deras tapi mereka merasakan kehangatan didalam tubuh. Bintang2 mulai muncul di langit, dan sinar2 mereka membuat salju di jalan raya kebiru2an. Egar memondong gadis itu diatas bahunya dan meloncat dari satu langkah ke langkah yg lain. Ia belum pernah merasa begitu puas dalam hidupnya. Melihat tawa riang gadis itu, ia merasa telah mendapat hadiah natal yg paling memuaskan untuk dirinya sendiri. Ellis, dengan perut kenyang dan hadiah yg berharga di lehernya, merasakan kegembiraan natal yg pertama dalam hidupnya. Mereka bermain dan tertawa selama setengah jam, sebelum Egar melihat jam di atas gereja dan memutuskan bahwa ia harus pergi ke stasiun bis. Karena itu ia membawa gadis itu ketempat dimana ia menemukannya.
"Sekarang pulanglah, Ellis. Hati2 dijalan. Tuhan memberkatimu selalu." "Kemana anda pergi, Pak ?" tanya Ellis pada orang asing yg baik hati itu. "Saya harus pergi bekerja. Ingat sedapat mungkin bersekolahlah yg rajin. Selamat natal, sayang."
Ia mencium kening gadis itu, dan berdiri. Ellis mengucapkan terima kasih dengan suaranya yg kecil, tersenyum dan berlari2 kecil ke asramanya. Kebahagiaan yg amat sangat membuat gadis kecil itu lupa menanyakan nama teman barunya. Egar merasa begitu hangat didalam hatinya. Ia tertawa puas, dan berjalan menuju ke stasiun bis. Pengemudi bis mengenalnya, dan sebelum Egar punya kesempatan untuk bicara apapun, ia menunjuk salah satu bangku yg masih kosong. "Duduk di kursi kesukaanmu, saudaraku, dan jangan cemaskan apapun. Sekarang malam natal." Egar mengucapkan terima kasih, dan setelah saling menukar salam natal ia duduk di kursi kesukaannya.
Bis bergerak, dan Egar membelai kalung yg ada di dalam kantongnya. Ia tidak pernah mengenakan kalung itu dilehernya, tapi ia punya kebiasaan untuk mengelus kalung itu setiap saat. Dan kini ia merasakan perbedaan dalam rabaannya. Keningnya berkerut ketika ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya, dan membaca sebuah kalimat yg baru diukir dibalik bandulnya : "Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas"
Saat itu ia baru sadar bahwa ia telah keliru memberikan hadiah untuk Ellis......
***
Selama 12 tahun berikutnya hidup memperlakukan Egar dengan amat keras. Dalam usahanya mencari pekerjaan yg lebih baik, ia harus terus menerus berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Akhirnya ia bekerja sebagai pekerja bangunan di Marengo, sekitar 1000 km dari kampung halamannya. Dan ia masih belum bisa menemukan pekerjaan yg cukup baik untuk makan lebih dari sekedar makanan kecil atau kentang goreng.
Karena bekerja terlalu keras di bawah matahari & hujan salju, kesehatannya menurun drastis. Bahkan sebelum umurnya mencapai 45 tahun, ia sudah tampak begitu tua dan kurus. Suatu hari menjelang natal, Egar digotong ke rumah sakit karena pingsan kecapaian. Hidup tampaknya akan berakhir untuk Egar. Tanpa uang sepeserpun di kantong dan sanak famili yg menjenguk, ia kini terbaring di kamar paling suram di rumah sakit milik pemerintah.
Malam natal itu, ketika setiap orang di dunia menyanyikan lagu2 natal, denyut nadi Egar melemah, dan ia jatuh ke dalam alam tak sadar. Direktur rumah sakit itu, yg menyempatkan diri menyalami pasien2nya, sedang bersiap2 untuk kembali ke pesta keluarganya ketika ia melihat pintu gudang terbuka sedikit. Ia memeriksa buku ditangannya & mengerutkan keningnya. Ruang itu seharusnya kosong. Dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu dan menyalakan lampu. Hal pertama yg dilihatnya adalah seorang tua kurus yg tergeletak diatas ranjang, disebelah sapu2 & kain lap.Tapi perhatiannya tersedot pada sesuatu yg bersinar suram didadanya, yg memantulkan sinar lampu yg menerobos masuk lewat pintu yg terbuka. Dia mendekat dan mulai melihat benda yg bersinar itu, yaitu bandul kalung yg sudah kehitam2an karena kualitas logam yg tidak baik.Tapi sesuatu pada kalung itu membuat hatinya berdebar. Dengan hati2 ia memeriksa bandul itu dan membaca kalimat yg tercetak dibaliknya. "Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas"
Air mata turun di pipi Ellis. Inilah orang yg paling diharapkan untuk bertemu seumur hidupnya. Inilah orang yg membuat masa kanak2nya begitu tak terlupakan hanya dengan 1 malam saja, dan inilah orang yg membuatnya percaya bahwa sesungguhnya Sinterklas memang ada didunia ini.
Dia memeriksa denyut nadi Egar dan mengangguk. Tangannya yg terlatih memberitahu harapan masih ada. Ia memanggil kamar darurat, dan bergerak cepat ke kantornya. Malam natal yg sunyi itu dipecahkan dengan kesibukan mendadak dan bunyi detak langkah2 kaki puluhan perawat & dokter jaga. "Jangan kuatir, Pak.... Siapapun nama anda. Ellis disini sekarang, dan Ellis akan mengurus Sinterklasnya yg tersayang." Dia menyentuh kalung di lehernya. Rantai emas itu bersinar begitu terang sehingga seisi ruangan terasa hangat walaupun salju mulai menderas diluar. Ia merasa begitu kuat, perasaan yg didapatnya tiap ia menyentuh kalung itu. Malam ini dia tidak harus bertanya2 lagi karena ia baru saja menemukan orang yg memberinya hadiah natal yg paling sempurna sepanjang segala jaman..........

Jendela Rumah Sakit.(Sydney Smith)

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedangdirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranyamenderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk ditempat tidur selama satu jam di setiap sore untukmengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempattidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yangada di kamar itu.
Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di ataspunggungnya.
Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam.Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan,keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yangpernah mereka kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekatjendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentangapa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya.Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senangdan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semuakegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.
"Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yangindah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkananak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapapasangan berjalan bergandengan di tengah taman yangdipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi.Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atassana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senjayang indah."
Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendeladengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkanmata membayangkan semua keindahan pemandangan itu.Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalanikesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadilebih kuat, percaya dirinya bertambah.
Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk didekat jendelamenceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas.Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara paradeitu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata priayang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-katayang indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggupun berlalu.
Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangatuntuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring didekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalamtidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawatlain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian priayang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkanke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menurutikemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segalasesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan priatadi seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinyauntuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luarmelalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisamelihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinyategang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela disamping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata,jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuatteman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olahmelihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balikjendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya priatadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihattembok sekalipun.
"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup" kata perawatitu.
Renungan :
Kita percaya, setiap kata selalu bermakna bagi setiap orangyang mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu, yangmampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kitamelakukan sesuatu. Kata-kata, akan selalu memacu dan memicukita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita, dalamberpikir, dan bertindak.
Kita percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangatkuat. Dan kita telah sama-sama melihatnya dalam cerita tadi.Kekuatan kata-kata, akan selalu hadir pada kita yang percaya.
Kita percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh denganmotivasi, bernilai dukungan, memberikan kontribusi positifdalam setiap langkah manusia. Ujaran-ujaran yang bersemangat,tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaikdalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampumemberikan kebahagiaan kepada orang lain. Menyampaikankeburukan, sebanding dengan setengah kemuraman, namun,menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaanitu sendiri.
***********************************************************
Wisdom Of The Day
Jika Anda membuat seseorang bahagia hari ini, Anda jugamembuat dia berbahagia dua puluh tahun lagi, saat iamengenang peristiwa itu.

Senin, November 17, 2008

Menemukan Kebaikan Di Mana-Mana (Gede Prama)


Ada sebuah keluhan yang hampir selalu muncul di setiap pembicarantentangSTRESS. Tanpa mengenal kondisi dan situasi, ada banyak orang yangmengeluhkan peran orang lain. Dari tuduhan orang lain itu tidak maumengerti, cenderung menipu, jahat, tidak mau membantu, bikin kesal,sampaidengan tuduhan orang lain sebagai biang stres. Ada bahkan yangmenyebutkanbahwa dirinya jarang sekali bertemu orang baik.
Izinkan saya membagi eksperimen saya dalam kehidupan. Hampir setiap minggusaya terbang. Dan sekretaris saya hafal betul, kalau sebelum melakukanconfirm terhadap tiket, ia harus menemukan tempat duduk agak di depandandi lorong. Dulu, sering sekali setiap check in di bandara, sayamenginformasikan bahwa sekretaris saya sudah book tempat duduk didepandan lorong. Dan sering kali juga tidak kebagian tempat yang sayaInginkan.Tidak jarang hati ini dibuat kesal. Sempat mengira kekeliruan ada disekretaris. Namun, belakangan pendekatan saya dalam melakukan check indirubah. Tidak lagi menyebutkan bahwa sekretaris sudah book tempatduduk,dengan ekspresi penuh senyuman saya katakan begini : 'saya akan senangsekali kalau dapat tempat duduk di depan dan di lorong'. Sebagaihasilnya,belum pernah sekalipun saya dikecewakan.
Apa yang mau diilustrasikan cerita ini sebenarnya sederhana, kalaukitamau merubah pendekatan kita pada orang lain, banyak orang dengan amatsukarela membagi kebaikan dengan kita. Modalnyapun tidak terlalu mahal :senyum, keyakinan bahwa orang lain baik, dan memperlakukan merekasebagaimana kita ingin diperlakukan orang. Dan saya memetik banyaksekalimanfaat dari cara ini. Bahkan orang yang tadinya amat tidakbersahabatpunbisa berubah menjadi baik dengan pendekatan ini.

Ada harga yang harus dibayar tentunya. Gengsi dan harga diri hanyasebagian saja dari kekuatan yang mesti dikelola dalam hal ini. Belumlagiemosi, marah dan sejenisnya.
Seorang guru meditasi pernah bertutur sebuah cara yang berhasilmenurunkangengsi saya secara amat drastis. Di tempat Anda duduk sekarang ini,cobalah tutup mata sebentar. Ajaklah sang fikiran melompat ke belakangseratus tahun, enam ratus dan bahkan dua ribu tahun. Kemudian,lompatkanlagi fikiran ke seribu tahu ke depan. Gambarkan secara jelas,kehidupanditempat ini pada tahun-tahun tadi. Dalam perjalanan waktu tadi,kemudianlihat diri Anda yang sedang duduk. Bukankah diri ini tidak lebih darisebutir pasir di tengah samudera ? Setetes air di lautan yang amat luas Pertanyaannya kemudian, layakkah membesar-besarkan diri dengan gengsidanharga diri di tengah-tengah kekerdilan macam ini ?
Lama sempat saya dibuat merenung oleh latihan kecil ini. Sempat jugatidakpercaya. Namun, dalam pemahaman yang lebih dalam, dia banyakmenyelamatkandiri ini dari perangkap gengsi dan harga diri. Dulu, ada perasaankurangenak kalau naik pesawat kelas ekonomi. Sekarang, ia bukan lagi menjadihalangan berarti. Dulu, ada kebutuhan agar dikagumi orang lain setelahmenulis. Sekarang, dia tidak lagi menjadi syarat dan motivasi menulis.Dulu, ada perasaan tersinggung kalau ada pertanyaan orang dalamseminaryang memojokkan. Sekarang, dia malah menjadi sahabat kedewasaan dankesabaran.

Setelah gengsi dan harga diri, sarana berikutnya agar menemukansebanyakmungkin kebaikan adalah senyum. Inilah sarana murah namun amat meriahhasilnya. Baik mencakup materi maupun non materi. Pariwisata Bali,Singapore Airline hanyalah sebagian kecil contoh, bagaimana senyumbisamenghasilkan sejumlah kedahsyatan. Di tingkatan individu, senyum tidaksaja merubah wajah seseorang menjadi lebih menarik, tetapi jugamenciptakan magnet yang bisa menarik kebaikan orang lain.
Saya punya seorang rekan yang memiliki mimik muka selalu senyum.Lebih-lebih ditambah dengan lesung pipit kecil di pipinya. Didorongolehkeingintahuan akan dampak senyum, saya bertanya tentang jumlah sahabatyang dia miliki. Ternyata dia memiliki sahabat di mana-mana. Dalambanyakkejadian, dia bahkan dibantu banyak orang secara amat suka rela.
Di Amerika sana ada seorang tua yang berhasil merubah tidak sedikitanakamat nakal menjadi manusia biasa dan sebagian lagi menjadi anak baik.Tidak sedikit anak-anak pembunuh yang berhasil dirubahnya. Ketikaditanyarahasianya, dia mengatakan tidak punya rahasia. Kalaupun ada rahasia,rahasia tadi ditulis besar-besar di gerbang depan rumahnya yangbertuliskan : there is no such thing as bad kids. Tidak ada anak yangpadadasarnya nakal.
Nah inilah sarana terakhir - setelah menundukkan gengsi dan menebarsenyum- dalam usaha menemukan kebaikan di mana-mana : meyakini bahwa oranglainitu baik. Kalau pembunuh saja bisa dirubah dengan cara ini, apa lagiorangbiasa.
Saya masih teringat betul komentar rekan-rekan ketika saya dan isterimenikah di umur muda. Tidak sedikit yang meramalkan kami akan ceraitigabulan kemudian - terutama karena saya memiliki banyak kekurangan.Sekarang, setelah puteri kami yang tertua sebentar lagi berumur tujuhbelas tahun, tidak jarang isteri saya menelpon dari tempat yang amatjauhhanya untuk berucap singkat : dad I love you !. Kalau Anda tanyarahasianya, tentu saja semuanya sudah saya ungkapkan dalam tulisan pendekini.